|
|
|
|
|
07-09-2011
Oleh: Feriawan Agung N., S.Sos. *)
Agak miris melihat pemberitaan tentang kondisi Panti Jompo di Pare-Pare pada hari lebaran yang baru seminggu ini diliput oleh salah satu stasiun televisi. Videonya bisa dilihat di sini. Kaget dan sekaligus geram, itu reaksi pertama saya. Betapa tidak? Karena sudah tiga bulan ini saya bekerja sebagai pekerja sosial di Panti Jompo dan biasa berurusan dengan para lansia, mendapati kok ada lansia yang bernasib sebegitu mengenaskan. Orang tua saya, mertua dan kerabat bertanya kepada saya tentang kondisi tempat kerja saya, selaku pegawai negeri yang mengabdi di (bahasa awamnya) Panti Jompo. Media memang terkadang keterlaluan untuk membuat pemberitaan, tetapi untuk yang satu ini saya kira relatif jujur, mengapa? Ya, karena ngapain membuat propaganda dengan mengambil objek panti jompo yang dikelola oleh suatu provinsi yang bobot politisnya relatif kecil. Barangkali, khusnudzan saja, itu hanya sentilan untuk mengingatkan kita, bahwa ada sekian manusia yang nasibnya berbeda di saat kita bersukaria menikmati hari lebaran. Untuk itu saya ingin menuliskan tentang tempat kerja saya yang baru di PSTW (Panti Sosial Tresna Wredha) Abiyoso, Pakem, Yogyakarta. |
|
Baca selanjutnya...
|